Hidung mulai panas, dada mulai sesak, kepala mulai cenat cenut.. Pengen nangis.. Tapi ga tau apa yang kutangisi.
Pertengakaran seminggu yang lalu masih membekas. Bukan kamu yang menyakiti aku, tapi aku yang terlalu bodoh untuk masuk ke perangkap wanita itu. Mengeluarkan semua emosiku kepadamu. Dan membiarkan dia tertawa diatas pertengkaran kita.
Aku marah, cemburu, dan ga bisa kontrol perasaan dan emosiku. Bahkan setelah beberapa hari, aku masih terus memantau pergerakan facebook wanita itu, dan mencari semua kemungkinan apakah dia membicarakanku kepada teman-temannya.
Indikasi itu ada, tapi tidak eksplisit disebutkan olehnya..
Dan lagi-lagi aku terjebak untuk marah. Aku berusaha untuk meredam amarahku dengan mengalihkan ke pekerjaanku yang memang sedang dipuncak ke-hectic-annya. Aku ingin sekedar memelukmu dan menumpahkan didadamu kemarahanku.
Mungkin cuma perasaanku, atau mungkin benar ya? Koq kamu jadi lebih diam? Lebih memilih untuk tidak berbicara sama sekali daripada sekedar meladeni ocehanku. Sampai aku kok ngerasanya kamu pengen udahan..
Mungkin kamu juga lelah, mungkin kamu juga punya masalah dan pemikiran sendiri.. mungkin kamu..
entahlah..
maaf merepotkanmu, maaf bikin suasana dingin seperti ini, maaf juga karena aku belum bisa mendewasakan sikapku.
maaf..
mama….. *nangis sekenceng-kencengnya*